Search

Sulitnya Mengembangkan Budaya Baru dalam Sepak Bola

Jurnal Timo Scheunemann Part 6

Beberapa waktu lalu, saya menulis tentang tantangan para pelatih Garuda Select dalam mengikis kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki masing-masing pemain. Hari ini saya kembali menyaksikan tantangan serupa, namun dalam hal yang berbeda. Pemain kita bukan saja harus mengikis kebiasaan buruk mereka secara teknis dan taktis, namun juga harus mengembangkan budaya baru di dalam lapangan yang berlawanan dengan budaya mereka sehari-hari di luar lapangan.


Hari ini, Bagus dan Brylian mendapatkan kesempatan istimewa: berlatih bersama tim Como senior. Performa mereka lumayan, tidak terlihat bahwa mereka bukan merupakan bagian dari tim atau jauh tertinggal dari pemain lain. Mereka tidak menyolok secara negatif dan bahkan bisa bersaing dengan pemain Como senior.


Usai latihan, Pelatih Kepala Garuda Select, Des Walker, meminta saya menanyakan kepada Brylian dan Bagus tentang perbedaan utama yang dirasakan dalam latihan tersebut. “Intensitas latihan dan kecepatan dalam bermain lebih tinggi, Coach!” jawab Bagus. “Passing mereka lebih keras dan tegas,” tambah Brylian.


Walker menggangguk, namun terlihat belum puas. “Betul, semakin tinggi level semakin cepat permainan, tapi bukan itu perbedaan utamanya,” sahut Walker yang kemudian membuat Brylian dan Bagus terdiam.


Walker kemudian menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada komunikasi yang intens. Setiap bola yang diumpankan disertai informasi. Sang pengumpan dan juga teman-teman di sekitar sang penerima umpan senantiasa memberi arahan yang membuat serangan menjadi efektif dan bola tidak mudah direbut lawan.


Seruan seperti “Putar!”, “Awas (ada lawan)!”, atau “Pantulakan!” selalu terdengar dengan lantang. “Begitulah sepak bola seharusnya dimainkan. Semuanya menjadi lebih mudah,” ujar Walker.


“Tetapi bukan itu saja,” lanjutnya. “Brylian, kamu ingat saat kamu kehilangan bola? Temanmu langsung memberi arahan kepadamu. Itu yang kalian tidak lakukan satu sama lain. Dalam sepak bola, tidak saling memberi tahu keinginan kita dan kesalahan teman akibatnya fatal!” ucap Walker pada anak asuhnya itu.


Apa yang dikatakan Walker sangatlah penting. Bukan budaya kita untuk berteriak lantang meminta bola. Bukan budaya kita saling memberi tahu kesalahan masing-masing. Kita diam. Kita tidak mau dicap sok tahu. Kita memilih menghindari konflik. Padahal dalam sepak bola, saling memberikan arahan sangatlah penting.


Untuk itu, yang memberi arahan tidak boleh marah-marah dan sebaliknya yang menerima arahan tidak boleh baper. Saat Ferdiansyah (bek sayap) memberi umpan yang membuat Kakang Rudianto (bek tengah) tertekan misalnya. Kakang wajib protes pada Ferdi. Arahan akan sedikit emosional karena sepak bola memang penuh emosi. Karena itu, Ferdi harus maklum dan tidak boleh tersinggung. Justru Ferdi harus bersyukur menerima teguran karena berkat teguran itu, permainan Ferdi akan semakin meningkat.


Saya melihat budaya kita sehari-hari memang terkadang tidak cocok diimplementasikan di lapangan. Masih ingat Guus Hiddink saat melatih tim nasional Korea Selatan (Korsel)? Saya masih ingat bagaimana Hiddink tertegun menyaksikan pemain yang lebih muda selalu diam kepada yang lebih tua. Hiddink lalu membuat peraturan di mana pemain muda dan senior harus berbaur di meja makan dan di kamar hotel. Pemain muda diperintahkan untuk tidak menghiraukan senioritas dalam mengumpan bola, memberikan arahan, ataupun saat memberi teguran.


Sama seperti Hiddink yang melihat ada budaya Korsel yang tidak cocok di lapangan, demikian juga Walker meminta pemain Garuda Select mengembangkan budaya baru saat berada di lapangan bola.


Salam,

Timo Scheunemann

  • Instagram