Search

Mengasah Permata

Journal Garuda Select Part 3

Setiap pemain dalam sebuah tim penting, namun selalu saja ada pemain yang menonjol atau ditonjolkan publik. Biasanya pemain tersebut adalah pemain menyerang, pemain kreatif yang memiliki skill tinggi. Dalam tim Garuda Select saat ini pemain tersebut adalah Rafli. Oleh Des Walker dan Dennis Wise ia dijuluki “Jorginho”, merujuk pada gelandang elegan Brazil di masa lalu.

Pemain berposisi gelandang serang bertubuh mungil ini berasal dari dareah paling terpencil diantara pemain-pemain Garuda Select lainnya. Desa Rafli terletak sekitar 6 jam perjalanan dari Makassar, dimana Rafli bermain untuk PSM Makassar.

No doubt, bakat Rafli besar. Saya sendiri melihat kemiripan cara bermain antara Rafli dan Firman Utina. Namun, sama seperti pemain-pemain lainya, bakat Rafli harus terus diasah karena masih memiliki banyak kekurangan. Pemain berkelas dilahirkan sekaligus diciptakan. Bakat alam harus dipoles kalau menginginkan hasil akhir yang memuaskan bak permata.

Secara khusus Rafli harus menjadi lebih kuat dan berani secara fisik. Karena itu tiga kali seminggu anak-anak mengikuti sesi gym bersama pelatih fisik, Jake Simons. Selain itu, sebagai pembagi bola, Rafli harus belajar membuat keputusan dengan tepat dan mengeksekusinya dengan precise. Coba perhatikan 4 diagram dibawah ini. Dua menunjukan eksekusi umpan yang benar dan dua menunjukan umpan yang kurang precise sehingga merepotkan kawan yang menerima umpan karena ia akan berada dalam tekanan lawan.

(Diagram 1-4)

Sebagai pengatur serangan Rafli sering menjemput bola ke belakang. Nah, koreksi yang diberikan tim pelatih pada Rafli saat menjemput bola adalah arah larinya. Sudut berlarinya harus diperbaiki. Perhatikan 2 diagram dibawah ini; satu contoh lari yang salah dan yang ke dua contoh sudut lari yang benar.

(Diagram 5-6)

Kalau berlari mendatangi kawan tanpa sudut, pandangan Rafli akan terbatas ke belakang saja. Dengan demikian ia akan dengan mudah ditekan oleh lawan dan kehilangan bola di daerah yang sangat menguntungkan lawan. Sebaliknya, bila berlari mendatangi bola dengan benar Rafli bisa melihat situasi di lapangan dengan leluasa. Ia menghadap ke depan bukan ke belakang. Hal kecil sebenarnya tapi konsekuensinya sangat besar.

Harapan kita semua, Rafli dan anak-anak berbakat lainnya yang tergabung dalam program garuda select ini terus bersemangat mengasah kemampuan mereka, sehingga pada akhirnya permata tercipta.

Salam,


Timo Scheunemann

  • Instagram