Search

NIGOL

Journal Timo Scheunemann Part 4

Bambang Pamungkas legenda hidup Persija Jakarta baru saja pensiun. Di saat yang sama, bisa saja penerusnya sedang digembleng di Birmingham, Inggris, bersama Garuda Select.


Alfriyanto Nico, yang saya juluki “Nigol” karena sudah mencetak enam gol selama di Inggris. Ia berasal dari Solo dan terakhir bermain untuk Persija Jakarta di kancah Elite Pro Academy. Lumayan, untuk Persija ia mencetak sembilan gol.


Berasal dari SSB Ksatria dan terakhir Pasoepati, ia kemudian berhasil menembus Persija U-16 melalui seleksi umum. “Bisa masuk Elite Pro saja sudah senang, apalagi Persija. Enggak mimpi, Coach, bisa gabung Garuda Select,” ujar Nico dengan mata berbinar-binar.


Nico dipilih tim seleksi Garuda Select karena memiliki potensi. Saya melihat Nico pemain yang cukup spesial. Ia striker tipe pekerja keras yang punya kecepatan, skill lumayan, dan kekuatan otot. Ini jarang ditemui di Indonesia.


Ia juga striker yang penuh skill dan punya kecepatan. Tidak hanya itu, Nico juga petarung yang punya mental kuat, dan tidak cengeng.


No doubt, potensinya besar, tapi seperti setiap pemain muda ia masih harus berkembang dan banyak belajar. Di bawah arahan Des Walker, Nico belajar untuk berani berduel. Saat berduel, Nico belajar untuk tidak gampang jatuh dan tidak menunjukkan rasa sakit pada lawan. “Get up! Stand up!” teriak Coach Des.


Kini teriakan itu semakin jarang terdengar. Ya, Nigol telah belajar untuk berdiri kokoh dan cepat bangkit saat terjatuh. Semua berkat latihan di gym sebanyak tiga kali seminggu. Tidak asal nge-gym, porsi latihan yang diberikan pelatih fisik Jake Simons dikhususkan untuk pemain sepak bola. Dengan demikian pemain menjadi lebih kuat, berotot, eksplosif, dan tidak kaku.


Coach Des juga mengajarinya arah lari yang benar. Baik saat kita memiliki bola atau saat kita melakukan pressing. Bagaimana memancing lawan untuk memberikan umpan ke arah tertentu untuk kemudian melakukan pressing bersama-sama sebagai sebuah kesatuan. Perhatikan diagram di bawah ini.

Banyak hal lain yang dipelajari Nico. Salah satunya, ia terus diarahkan untuk tidak banyak menggiring bola. Sebaliknya, jangan sering melakukan satu sentuhan saja. “Nicoooo, two touch!,” teriak Coach Des tanpa henti. Dengan sentuhan pertama, bola dikontrol dengan baik sehingga sentuhan berikutnya, yakni mengumpan bola memiliki kans yang lebih besar untuk sampai ke tujuan dengan baik. Selain itu, keuntungan dua sentuhan dibandingkan dengan satu sentuhan adalah situasi permainan akan berubah dalam hitungan sepersekian detik sehingga akan ada opsi lain yang bisa dipilih.


Kini, semua tergantung Nico. Kalau ia terus bekerja keras di setiap latihan dan mempraktikkan ajaran pelatih, Nico berpeluang menjadi striker tangguh untuk Persija dan Indonesia di masa depan. Stay hungry Nigol! Teruslah berkembang! Demi Indonesia, jadilah pemain yang disiplin dan tidak cepat puas diri!

  • Instagram