Search

Bagaikan Ditabrak Kereta Api

Updated: Dec 8, 2019

Journal Timo Scheunemann

Meet Kakang. Perkenalkan, Kakang. Kapten Garuda Select yang bermain di posisi center back ini berasal dari Cimahi, Bandung. Karena Kakang kelahiran tahun 2003, ia berada di posisi yang kurang menguntungkan. Di satu sisi teralu tua untuk tim nasional U-16


Beruntung Kakang terpilih program Garuda Select yang menimba ilmu di Birmingham, Inggris, selama tujuh bulan. Seperti diketahui, program Garuda Select generasi kedua ini memprioritaskan pemain kelahiran 2003. Kakang, yang buntung menjadi beruntung.


Bertindak sebagai penerjemah teknis di lapangan saya sekaligus menjaga enam pemain di flat 54 yang terletak di lantai 10 asrama mahasiswa universitas Aston. Ada empat flat di lantai 10 ini, dimana masing-masing flat dijaga oleh satu orang dewasa. Flat 51 dan 52 dijaga Zainal Irwan dan Muhajjir Esyaputra dari Mola Tv, sedangkan flat 53 dijaga oleh Pak Berty Wahyudi, seorang guru privat asal Jakarta. Nah, salah satu pemain “asuhan” saya di flat 54 ini adalah Kakang. Hal ini memudahkan saya memperhatikan perkembangan Kakang sejak day one, baik di dalam maupun di luar lapangan.


Minggu pertama latihan, Kakang terlihat bingung. “Seakan-akan apa pun yang saya lakukan salah," begitu dia berujar sambil menundukan kepala. Kakang bukan pemain jelek. Posturnya yang tinggi (183 cm), kemampuannya mengolah bola, kegarangannya dalam berduel, semua cukup menjanjikan. Bahkan saya berani memprediksi bahwa Kakang akan menjadi center back tangguh di masa mendatang, bahkan bisa saja bermain untuk timnas senior. The sky is the limit. Namun, saat tiba di Inggris Kakang serasa ditabrak kereta api. Melakukan ini salah, melakukan Itu salah.


Dennis Wise selaku Direktur Teknik dan Des Walker selaku Pelatih Kepala merupakan pemain-pemain kelas dunia di masanya. Apalagi posisi mereka bertahan. Saya masih ingat iklan BMW yang menampilkan Des Walker dengan slogan “Tidak ada yang mampu melewati Des Walker!” Jelas sebuah kesempatan luar biasa untuk Kakang menimba ilmu dari mereka.


Sebagaimana memang seharusnya dilakukan seorang pelatih saat membentuk tim baru, Denis dan Des fokus pada pembenahan pertahanan terlebih dahulu. “So many bad habits," ujar Dennis Wise kepada saya sambil menyaksikan anak-anak berlatih.


Kakang sebagai salah satu center back utama terus mendapatkan sorotan. Saat seharusnya membuang bola Kakang mengontrol bola sehingga sangat rawan direbut lawan di daerah yang sangat menguntungkan bagi lawan. Sebaliknya, saat seharusnya membangun serangan dari belakang karena ada ruang dan waktu, Kakang malah memberikan umpan jauh.


Coach Des seketika menghentikan latihan sejenak. Sambil berdiri kedinginan, anak-anak mendengarkan arahan mengenai kapan seharusnya melakukan apa. “Buat apa buang bola?”, tanya coach Des. “Lagipula, kalau mau buang bola jangan ke tengah lapangan. Pasti kalah duel striker kita mengingat postur lawan tinggi-tinggi. Buang bola ke daerah sayap pertahanan lawan!”

Coach Des menutup arahan taktisnya dengan berujar: “Kita harus smart. Gunakan kelebihan kita. Kalau bola dibuang jauh ke sayap, pemain sayap dan striker kita yang memiliki kecepatan punya kans yang jauh lebih besar untuk menguasai bola.”


Semua pemain, termasuk Kakang, dari hari ke hari semakin sadar dan paham mengenai kebiasaan-kebiasaan buruk mereka selama ini. Kakang, yang sering melakukan pelanggaran tidak perlu kini sudah mempraktekan cara bertahan 1 vs 1 sesuai arahan pelatih. Setiap latihan usai Kakang bersama Dodi menambah porsi latihan sendiri. Singkat saja, sekitar 5-10 menit mereka berlatih umpan-umpan panjang dengan kaki kiri, kaki lemah mereka. Coach Des meminta mereka melakukan itu agar bisa melakukan clearance baik dengan kaki kanan maupun kaki kiri.


Kakang kini telah beradaptasi. Rasa peningnya setelah “ditabrak kereta api” kini telah berangsur pulih. Saya bangga dengannya. Sebagai kapten dia sangat bertanggung jawab soal kostum latihan dan lain-lain. Dia cepat belajar. Sangat coachable. Terlihat jelas dia menggunakan kesempatan emas ini, bergabung bersama Garuda Select, dengan sebaik-baiknya. Latar belakang yang sulit, ayah Kakang yang berprofesi sebagai supir sudah setahun ini sakit dan tidak mampu bekerja, membuat motivasinya semakin terlecut.


Kamu bisa, Kakang! Banggakan orang tuamu. Banggakan Indonesia di masa mendatang. Doa saya ayahmu lekas sembuh!


Salam,

@coachtimo


  • Instagram